Tidak Membiarkan Lisan Berjalan Lebih Cepat dari Hati


Kamu pernah ngga sih termenung karena berpikir seperti ini “Loh kok kenapa aku jadi cerita ini ke dia? ngapain langsung aku tanggapi pertanyaan dia yang terlalu masuk ke ranah privasiku tadi? atau mungkin dapat omongan dari si C karena si B ceritain apa yang kamu ceritain ke dia?

Trus setelahnya jadi overthinking sendiri, rasanya lebih baik di cap bisu dan ngga asik sih daripada merasakan penyesalan ini. Pernah ngga?

Kalau pernah, kamu perlu baca tulisan ini, kita pelajari bareng-bareng bagaimana cara mengendalikan lisan yang baik. Baik itu dari pendekatan sains dan yang sesuai dengan islam ajarkan.

Lisan Lebih Cepat dari Hati? Apa Maksudnya?

Hal ini bisa terjadi ketika tidak adanya jeda antara emosi diri dan ketika akan memberi respon terhadap suatu kejadian, sehingga muncullah ucapan impulsif yang membuat kita secara “tidak sadar” berbicara tanpa disaring terlebih dahulu. Sehingga hasil akhirnya lebih sering terjadi penyesalan. 

Tetapi kebanyakan dari kita lupa bahwa lisan adalah ekspresi dari niat dan keyakinan yang tersimpan didalam hati. Ketika kamu ingin menjaga lisan untuk tetap santun dan baik maka mulailah dari menjaga hati karena ia adalah pusat perasaan, dan keimanan manusia.  Menurut Abu Hamid Al Ghazali, seorang filsuf dan teolog dalam islam menjelaskan bahwa spiritualitas dan moralitas yang mengendalikan manusia dapat membentuk kepribadian seseorang. 

Sehingga dari pandangan tersebut dapat menjelaskan bahwa kesehatan hati dapat mempengaruhi kualitas perilaku kita.

Mengapa Bisa Kita Berbicara Tanpa Berpikir?

Sebab adanya perilaku impulsif yang membuat seseorang bisa melakukan suatu tindakan tanpa berpikir lebih dulu. Pola perilaku ini terjadi karena kebiasaan yang tersimpan didalam otak. Bagian otak manusia memiliki pengendalian dalam mengambil keputusan biasa disebut prefrontal cortex.(1)  

Ketika dalam keadaan stres, kemampuan prefrontal cortex dalam mengendalikan emosi dan perilaku impulsif jadi menurun. Tanpa adanya regulasi yang memadai, otak emosional terkhususnya amygdala memberikan pengaruh yang lebih kuat dalam mengambil keputusan. Sehingga karena inilah keputusan diambil dari emosional sesaat bukan yang selaras dengan tujuan dan nilai jangka panjang.(2)

Sehingga kita perlu mempelajari bagaimana cara mengendalikan diri. Menurut Roy Baumeister kemampuan kontrol diri perlu dilakukan seseorang untuk mengatur emosi, pikiran, dan tindakannya demi mencapai tujuan tertentu, terutama dalam situasi yang menuntut pengendalian perilaku impuls. 

Ketika seseorang mampu memahami cara mengontrol diri ia akan memahami tanggung jawab dirinya dalam berperilaku dan kehidupan sosial, sehingga tindakan yang ia lakukan akan lebih rasional dalam mengambil keputusan.

Dampak Lisan yang Tidak Dikendalikan

“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (HR. Al Bukhari).

Dari hadist ini saja sudah jelas bukan? Bagaimana Allah mengatur dan memberi tahu bahwa lisan kita ini bisa membawa keselamatan dan bisa pula menjerumuskan kepada hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya. 

Lisan yang tidak dikendalikan dapat memicu konflik dan penyesalan di kemudian hari, dan menimbulkan perpecahan dalam hubungan sosial. Mereka yang impulsif akan gegabah dalam bertindak, sesukanya berbicara tanpa sadar apa yang mereka ucapkan sudah melukai. 

"Sesungguhnya seorang hamba terkadang mengucapkan satu kalimat yang dibenci oleh Allah, yang dia menganggapnya biasa saja, padahal dengan sebab kalimat itu ia dilemparkan ke dalam api neraka." (HR. Bukhari).

Mengapa Islam Menekankan Diam Sebelum Bicara?

Dalam kitab Al arba’in an nawawi, disampaikan oleh Imam Syafi’i bahwa orang yang lebih memilih untuk diam dan tidak banyak bicara mendapatkan faedah, menambah kecerdasan akal dan siapapun yang ingin diberikan hati yang bersinar hendaknya meninggalkan bicara yang sia-sia dan tidak bermanfaat. 

Tidak hanya itu Umar bin Khattab pun berpesan ketika beliau menjadi khalifah untuk menjadi orang yang hemat dalam berbicara ketika menghadapi sesuatu yang bukan urusan kita. Faktanya kebanyakan kita sekarang sibuk sekali ikut mengurus yang tidak ada sangkut pautnya terhadap kita dan tanpa sadar kamu sudah mengahabiskan energi untuk hal yang tidak bermanfaat untuk dirimu.

Dan Rasulullah SAW juga bersabda 

Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu." (HR Ahmad)

Sebegitu pengaruhnya diam dalam hidup yang sudah jarang bahkan seperti asing untuk beberapa orang. Tidak semua pertanyaan harus dijawab, tidak semua yang “terlihat” kusut harus segera diluruskan. Beri waktu, beri jeda jika itu lebih membuat kita selamat.

Niatkan bicaramu untuk memberi paham yang benar bukan sekedar melampiaskan.

Biasakan berdzikir dan beri jeda untuk menjaga kondisi hati, biarkan pikiran ikut menjadi lebih jernih, lebih tenang. Dengan keadaan hati yang tenang maka insya allah menjadi lebih mudah dalam menjaga lisan, dan bicara juga ikut terjaga.


Wallahua’lam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mengenal Dirinya "Lagi"

Kunci Kecukupan

Kenapa Tubuh Kita Sering Kelelahan Padahal Tidak Sibuk? Berikut Penjelasannya